Tafsir di Era AI: Menakar batas kreatifitas Manusia dan Otoritas Wahyu
Acara Diskusi Mahasiswa Tafsir (DISMATA)
yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an da
Tafsir pada hari Jum’at 10 April 2026 di Warkop Gayeng, Plosokandang,
Kedungwaru, Tulungagung. Mengangkat tema “Tafsir di Era AI: Menakar batas
kreatifitas Manusia dan Otoritas Wahyu” membahas secara mendalam takaran batas
kreatifitas manusia dan otoritas wahyu mengenai tafsir di era AI. Pada diskusi
kali ini materi dipimpin oleh Kak Rosyida Amalia serta didampingi oleh Addurun
Nafis Thariqul Ma’rifah sebagai moderator.
Dalam pemaparan yang berlangsung,
dijelaskan bahwa AI menawarkan efisiensi komputasi tanpa preseden. Namun,
algoritma tidak memiliki kesadaran spiritual maupun adab ilmiyah. Perbedaan
manusia dengan AI ketika menafsirkan suatu teks yaitu manusia membutuhkan
spiritualitas, penguasaan turats dan waktu seumur hidup. Sedangkan AI adalah
mesin yang memposes jutaan kata, melacak munasabah dan mengklasifikasi tema
dalam hitungan detik.
AI hadir untuk mempermudah mansia dalam
menemukan jawaban disetiap persoalan yang ada. Namun AI tak selalu memberikan
jawaban yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan. AI bekerja sesuai dengan
perintah yang diajukan. Ketika ada kekeliruan ataupun kekurangan dalam membuat
perintah maka output yang dihasilkanpun juga akan mengalami kekeliruan. Oleh
karena itu, penting untuk memperhatikan pemilihan kosa kata dalam mengajukan
perintah ketika menggunakan AI sebab outpun yang dihasilkan akan berbeda.
AI sebagai akselator kognitif, bukan
pemberi fatwa. Dalam tradisi Islam, fatwa dan tafsir membutuhkan ilmu alat
(nahwu, Sharaf, balaghoh), ilmu ushul tafsir, integritas dan keadilan ilmiah,
proses ijtihad manusia. Resiko jika AI diposisikan sebagai pemberi fatwa maka
berpotensi kesalahan fatal dalam hukum agama, menggeser otoritas ulama, reduksi
makna teks, dan bias algoritma yang mempengaruhi tafsir. Ketika algoritma
dijadikan rujukan utama tanpa mediasi ulama, teks suci rentan terhadap
dekontekstualisasi dan manipulasi makna.
Mesin membaca kata sedangkan manusia
memahami makna. AI tidak hadir untuk menggantikan ulama, melainkan membebaskan
mereka dari batasan teknis, memungkinkan kelahiran tafsir yang lebih dalam dan
responsif terhadap peradaban modern tanpa kehilangan ruh kesakralannya.
Setelah pemateri menuntaskan penjelasannya,
dilanjutkan dengan sesi diskusi atau tanya jawab dengan para audiens. Setelah
itu dilanjutkan dengan foto bersama sebagai penutup acara kali ini. Dengan
diadakannya diskusi diharapkan bisa memberikan wawasan pengetahuan bagi
mahasiswa maupun mahasiswi mengenai tafsir di era AI dan bijak dalam
penggunaannya.
Penulis: Fina Ni'matul Inayah

Komentar